Postingan

Ode untuk Atoy

 Pada suatu masa saya sering (berusaha) membahagiakan orang terdekat dengan gambaran yang saya buat. Saat ulang tahun, saat pernikahan, saat mereka sedih, dan saat mereka bahagia walaupun saya sedih. Sampai datang masanya saya berhenti memberi mereka. Saya menyemai penyesalan lama-lama. Gambaran yang saya buat hanya berakhir di galeri handphone tanpa lagi ditengok dan akhirnya terhapus sistem terlupakan. Di kesempatan lain, karya saya hanya berakhir di gudang, entah masih berwujud atau telah menjadi sarang laba-laba. Bersyukur bila laba-laba tersebut dapat tinggal dan beranak-pinak di dalamnya, takutnya mereka hanya tersesat tinggal sesaat dan wafat. Gambaran saya bagi mereka hanya bunga jalanan berwarna redup yang gugur tersapu desau angin terlindas kendaraan

Untuk C, Manusia Pendengar Pertamaku

C, kutulis ini agar kelak kamu sadar bahwa kamu orang yang dibutuhkan oleh mereka yang tak dapat tempat untuk membagi kisahnya, mereka yang belum selesai bercerita tapi mendapat penghakiman, mereka yang butuh telinga, yang memahami dengan hati. C, ingatkah kamu pertama kali kita berjumpa di aplikasi random chatting di mana anime menjadi hal yang pertama kali dibicarakan, lalu merambat ke psikologi. Ketika itu aku basa-basi meminta buku pdf tentang hal tersebut agar ada pembicaraan lebih lanjut Kamu masih semester 2 awal, begitu juga aku. Kamu belum terlalu paham apa itu psikologi tapi kamu berjanji kedepannya akan belajar giat agar menjadi psikolog atau apalah yang berguna. Kamu supel banyak bicara tapi banyak memahami. C, entah berapa banyak topik yang kita bicarakan hingga suatu malam aku memutuskan videocall, hal yang paling tak kusukai setelah menelpon. Oh aku lebih benci videocall sih. Aku tak bisa berlama-lama, aku mengutarakan setelah aku sadar sejam lebih aku berbincang denganm...

Saya dalam Sebuah Puisi

Gambar
kamu penasaran kenapa semua pria berpikir adalah haknya untuk menabur pujiannya pada seorang perempuan? sudah, kecewa, nikmati sajalah sepanjang terima kasih kembali kasih, mungkin tidak.

Obituari untuk Sapardi Djoko Damono

Pagi tadi, pukul sembilan lebih belasan menit, Sapardi memberi hembusan kabar terakhir. Ia sekarang berjalan ke barat bersama hujan dan angin yang pernah ia tebar di bumi. Hujan dan angin yang pernah membuat saya demam puisi... Ini, sebuah obituari sederhana untuk beliau, yang tak bakal menjadikan api bagi kayu yang menjadikannya abu. Saya pernah tidak suka buku puisi: Tipis dan mahal, dibanding novel dengan banyaknya kata. Saya lupa, buku puisi Jokpin atau Sapardi yang pertama saya miliki. Yang saya ingat jelas, Hujan Bulan Juni adalah buku puisi pertama saya yang tebal dan hard cover dengan pembatas unik. Bukan Hujan Bulan Juni atau Yang Fana Adalah Waktu, melainkan Tuan, puisi yang menyihir saya (kamu bisa temukan di samping puisi Yang Fana Adalah Waktu). Pendek sekali, seperti ini bunyinya: "Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar." Sapardi mengajak berbincang Tuhan. Luar biasa. Ini membuat saya berpikir, puisi tak harus panjang dan bersajak-sajak. ...

Sepotong Cheese Burger

saya pernah menjual jiwa  untuk sepotong cheese burger di malam sebelum hari pembebasan berakhir malam yang paling buruk karena bukan hanya Tuhan yang murka ibu tercinta pun marah Terakhir kali, tak akan diulangi

Catatan Lukisan

tubuhku milik rahasia ia menyimpan segala nama tanggal kelahiran -dan kematian kota yang kau cari dalam peta gemintang dan bulan purnama sekumpulan ternak tanpa gembala ajak dan binatang berbisa rahasia menanamkan kebijakan di dalam hampa ada tempa di dalam hening ada bening di dalam sedih ada seri di dalam yang ada, segalanya tiada  Mei 2020

Hymne

Ya aku hanyalah manusia  tidak lah tahu berjodoh  dengan siapa di mana bagaimana ataupun apa seorang wanita ataukah  Kematian rupanya  Januari, 2018